Categories
Perikanan

Pakan Alternatif Untuk Ikan Lele

Untuk dapat hidup dan berkembangbiak, ikan lele memerlukan pakan. Jenis, ukuran, dan jumlah pakan yang diberikan tergantung dari ukuran dan jumlah ikan lele yang dipelihara. Ada dua jenis pakan berdasarkan pembuatannya, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami merupakan mikroorganisme yang hidup di dalam air, seperti plankton, sedangkan pakan buatan adalah pakan yang dibuat oleh manusia atau pabrik. Meskipun demikian, pakan alami dapat dibuat dengan cara membudidayakannya. Di samping pakan tersebut, ada satu lagi jenis pakan yang dapat diberikan, yakni pakan alternatif.

Pakan alternatif yang dapat diberikan kepada ikan lele antara lain ikan rucah atau ikan-ikan hasil tangkapan dari laut yang sudah tidak layak dikonsumsi manusia, limbah peternakan ayam, limbah pemindangan ikan, dan daging bekicot atau daging keong mas.

Karena ikan lele tergolong karnivora atau pemakan daging, pakan yang diberikan, baik buatan maupun alami, harus yang mengandung daging. Pakan buatan seperti pelet biasanya telah mengandung daging yang berasal dari tepung ikan, dengan kandungan protein tidak kurang dan 30%.

Pakan alternatif adalah pakan jenis lain yang bisa diberikan kepada ikan lele terutama pada kegiatan usaha budiday ikan lele pembesaran. Pakan tersebut bukan buatan pabrik maupun petani, melainkan sisa-sisa industri peternakan, limbah pemindangan, ikan rucah, atau berupa hama-hama yang menyerang tanaman padi, seperti keong mas. Selain harganya murah, pakan alternatif mengandung protein yang cukup untuk kebutuhan ikan lele. Kelemahan pakan alternatif terdapat pada pemberiannya, yakni kurang praktis jika dibandingkan dengan pakan buatan seperti pelet. Pakan alternatif sebelum diberikan memerlukan perlakuan khusus. Contohnva, ayam-ayam vang mati tidak boleh langsung diberikan begitu saja, tetapi bulu-bulunva harus dibuang dahulu, karena bulu ayam tidak dikonsumsi oleh lele. Demikian pula dengan ikan rucah atau keong mas, harus dipisahkan antara daging dan tulang atau cangkangnya. Tulang dan cangkang tersebut tidak akan dimakan oleh lele.

Pakan Alternatif Untuk Ikan Lele

1. Pakan Alternatif Dari Limbah Peternakan

Bagi para petani pembudidaya ikan lele yang lokasi budidayanva dekat dengan usaha peternakan ayam atau budi daya tersebut terpadu, yakni antara budidaya ikan lele dan ayam, usaha budidaya pembesaran ikan lele akan sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan pakan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan lele cukup dengan memanfaatkan limbah peternakan ayam tersebut. Pakan berupa bangkai ayam sebaiknya tidak diberikan secara langsung. Bulu-bulu ayam harus dibuang dengan cara dibakar dan direbus. Jika ayam yang akan diberikan hanya dibakar tanpa direbus, dikhawatirkan bagian dalam perut daging ayam tidak masak. Tetapi jika direbus terlebih dahulu, semua organ ayam akan masak, termasuk bagian dalamnva. Setelah masak, pakan ini baru dapat diberikan. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan jumlah lele yang dipelihara. Pada prinsipnya pakan tidak sampai ada yang tersisa di dalam kolam. Jika pakan banyak yang tersisa dan membusuk, kualitas air bisa turun.

2. Pakan Alternatif Dari Ikan Rucah

Ikan rucah atau ikan-ikan hasil tangkapan dari laut yang tidak layak dikonsumsi oleh manusia merupakan salah satu pakan yang disukai olah ikan lele. Ikan rucah banyak sekali ditemui di daerah pantai, terutama di daerah yang dekat dengan tempat pelelangan ikan. Harga ikan ini relatif murah dan terjangkau para petani lele. Ikan rucah berukuran kecil dan tidak banyak mengandung duri atau tulang, dapat diberikan langsung tanpa diolah terlebih dahulu. Namun, ikan runcah yang banyak mengandung tulang atau duri, sebelum diberikan, harus direbus terlebih dahulu setengah masak untuk memisahkan daging dengan tulang atau durinya. Dedak halus dapat ditambahkan untuk melengkapi kandungan gizinya. Pakan selanjutnya ditebarkan secara langsung atau dengan cara disimpan menggunakan wadah, seperti beberapa buah ayakan yang ditempatkan di bawah permukaan air.

3. Pakan Alternatif Dari Limbah Pemindangan

Bagi para petani ikan lele yang lokasi usahanya dekat dengan usaha pengolahan ikan laut, seperti pemindangan, limbah pemindangan dapat juga dijadikan pakan alternatif yang cocok untuk lele. Limbah pemindangan adalah kumpulan isi perut atau bagian-bagian lain seperti kepala, ekor, atau sirip ikan yang dibuang oleh pemindang. Pakan diberikan secara langsung atau dengan cara dicampur dulu dengan dedak halus dan direbus sampai setengah masak. Setelah ding-in, Baru dapat diberikan kepada lele yang dipelihara.

4. Pakan Alternatif Dari Keong Mas atau Bekicot

Pakan alternatif lain yang dapat diberikan kepada lele adalah daging keong mas atau daging bekicot. Kedua jenis hewan tersebut umumnya merupakan musuh para petani karena menyerang tanaman padi milik para petani. Dengan demikian, sebetulnya memanfaatkan keong mas sebagai makanan ikan lele berarti ikut pula membantu petani dalam memberantas hama tanaman padi.

Keong mas atau bekicot tidak dapat diberikan langsung, tetapi harus dipisahkan daging dengan cangkangnya terlebih dahulu. Caranya cukup mudah, yakni dengan merebus keong mas beberapa menit di dalam wadah tertentu, kemudian satu per satu dagingnya dicongkel menggunakan alat yang runcing, sehingga terpisah dari cangkangnya. Cara lainnya dengan memecahkan cangkangnya, kemudian mengambil dagingnya. Setelah bersih dari cangkang, daging keong bisa diberikan kepada lele yang dipelihara.

Categories
Umum

Bahan Pakan Untuk Ternak Sapi

Bahan Pakan Untuk Ternak Sapi

Di dalam memilih bahan pakan ternak sapi, yang perlu dipertimbangkan bukan saja zat-zat yang terkandung di dalamnya, tetapi juga sifat biologis bahan-bahan yang akan disajikan, seperti: volume dan tekstur, palatabilitas (enak tidaknya) dan sifat bahan makanan itu sendiri. Sebab kesemuanya akan berpengaruh besar terhadap mutu bahan makanan yang masuk ke dalam tubuh hewan. Sebagai contoh, jagung yang digiling terlalu kasar tentu relatif lebih sukar dicerna daripada bahan makanan yang halus. Bahan-bahan makanan yang rusak, tengik ataupun kurang enak tentu akan tersisih. Kalaupun bahan makanan tersebut terpaksa dimakan, tentu akan merugikan ternak sapi yang bersangkutan. Demikian pula bahan-bahan makanan yang sukar diresapi oleh getah pencernaan, misalnya jerami, mutu makanan tersebut lebih rendah daripada bahan makanan lain. Sebab, sari makanan yang terkandung di dalam jerami tertutup oleh dinding-dinding sel yang sukar ditembus. Oleh karena itu, para peternak harus memberi perhatian secara khusus terhadap jenis makanan yang akan diberikan kepada ternaknya.

Bahan Pakan Ternak Sapi Dari Hijauan

a. Bahan pakan hijauan segar

lalah makanan hijauan yang diberikan dalam keadaan segar. Yang termasuk bahan hijauan segar ialah rumput segar, batang jagung muda, kacang-kacangan dan lain-lain yang masih segar serta silage. Jumlah hijauan yang diberikan kepada sapi di Indonesia 30 — 40 kg. Hal ini sangat tergantung dari berat badan sapi yang bersangkutan. Pada prinsipnya pemberian hijauan ini ialah 10% dari berat badan. Bahan makanan hijauan berfungsi sebagai pengenyang, sumber mineral, karbohidrat, vitamin-vitamin dan protein (terutama yang berasal dari kacang-kacangan). Hijauan segar dari rumput jenis unggul, seperti rumput gajah, nilai gizinya cukup terjamin, dan volumenya lebih banyak dibandingkan dengan rumput liar. Sebab, rumput gajah dapat tumbuh dengan cepat, dalam waktu 30 — 40 hari sudah dapat dipanen, sehingga pemberiannya dapat dilakukan secara rutin.

 

b. Bahan pakan hijauan kering

Ialah makanan yang berasal dari hijauan yang dikeringkan, misalnya jerami dan hay. Jerami ialah hasil ikutan pertanian seperti padi, kacang tanah, kedelai, jagung dan lain-lain yang berupa batang daun ranting.

 

Cara meningkatkan mutu jerami

Telah dijelaskan bahwa jerami merupakan salah satu bahan makanan ternak yang mutunya rendah. Sebab, zat-zat yang terkandung di dalamnya, seperti sellulosa, terselubung oleh dinding yang keras, yakni silika dan lignin. Dengan demikian sellulosa yang sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh hewan ruminansia (sapi) sulit ditembus oleh getah pencernaannya. Sapi yang makan 10 kg jerami kira-kira hanya 3 kg atau 30% saja yang dapat dicerna. Tetapi dengan adanya kemajuan teknologi di bidang makanan ternak, bahan makanan dari jerami yang semula hanya memiliki nilai cerna 30% dapat ditingkatkan menjadi 50 — 55%, yakni dengan mencampur jerami dengan urea. Sebab dengan pencampuran tersebut dapat menambah unsur nitrogen (N) pada jerami dan dapat mematahkan ikatan silika dan lignin yang menyelubungi sellulosa. Dengan demikian jerami menjadi lebih mudah dicerna.

 

Proses dan cara pencampuran

Jerami yang akan dicampur harus ditimbang terlebih dahulu. Jerami tersebut bisa dalam keadaan basah atau kering.
Urea yang digunakan untuk mencampur sebanyak 5% dari berat jerami.
Untuk jerami kering, urea harus dilarutkan terlebih dahulu dengan air. Setiap 500 kg jerami kering mernbutuhkan 500 liter air untuk melarutkan urea. Tetapi untuk jerami basah (segar) urea tidak perlu dicampur dengan air, sebab jerami segar sudah mengandung air sebanyak 75% dari berat jerami.

Caranya mencampur adalah sebagai berikut:

  • Tebarkan jerami setebal 10 cm.
  • Basahi dengan larutan urea (untuk jerami kering) atau taburi urea (untuk jerami basah) sedikit demi sedikit.
  • Tebarkan jerami lagi di atas hamparan tebaran pertama, kemudian dihasahi lagi dengan larutan urea (untuk jerami kering) atau taburi dengan urea (untuk jerami basah) sedikit demi sedikit.
  • Demikian seterusnya.

Sedangkan hay adalah hijauan dari. jenis rumput-rumputan yang sengaja ditanam, kemudian dipanen menjelang berbunga dan langsung dikeringkan.

Jika ransum yang diberikan kepada ternak hanya dari hijauan kering, sebaiknya diberi bahan makanan penguat untuk mencegah terjadinya kekurangan vitamin dan zat-zat lain.

 

Konsentrat Sebagai Bahan Pakan Penguat Untuk Ternak Sapi

Yang dimaksudkan dengan makanan konsentrat (penguat) ialah bahan makanan yang konsentrasi gizinya tinggi tetapi kandungan serat kasarnya relatif rendah dan mudah dicerna. Bahan tersebut berupa dedak, atau katul, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, ketela pohon/gaplek dan lain-lain. Pada umumnya para peternak di dalam menyajikan makanan penguat ini masih sangat sederhana. Mereka hanya membuat susunan atau campuran makanan yang terdiri dari 2 (dua) macam bahan saja, dan bahkan ada yang hanya satu macam bahan.

Contoh susunan makanan yang terdiri dari 2 macam bahan adalah 1 bahan bungkil kelapa dan 4 bagian dedak halus.

Bahan makanan penguat hanya diberikan kepada sapi sebanyak 2 — 3 kg/ekor/hari.

 

Bahan Pakan Tambahan Untuk Ternak Sapi

a. Vitamin

Vitamin diberikan dalam bentuk feed-supplement minyak ikan. Sapi yang kekurangan vitamin, terutama vitamin A (Pro-vit A) dan vitamin D dapat diberi feed-supplement atau minyak ikan.

 

b. Mineral

Untuk mencegah kekurangan unsur-unsur mineral, khususnya Ca, P dan NaCl, ternak sapi dapat diberi tepung tulang, tepung kapur tembok (CaCO3) dan garam dapur. Tepung tulang biasanya mengandung Ca 23—33% dan P 10—18%.

 

c. Protein

Pada umumnya bahan-bahan makanan yang mengandung zat protein tinggi harganya mahal. Maka sebagai penghematan, bahan makanan dapat ditambah dengan urea. Untuk mencegah keracunan, dosis pemberian urea tidak boleh terlalu banyak. Sebagai pedoman, dosis pemberian urea tersebut adalah sebagai berikut:

1% dari seluruh ransum, atau
± 20 gram/100 kg berat badan sapi.

Untuk mencegah terjadinya keracunan ini, kecuali memperhatikan dosis pemberian urea juga perlu memperhatikan pemberian ransum yang kandungan karbohidratnya mudah dicerna, seperti: mollase (tetes), tepung tapioka. onggok dan lain sebagainya.

Categories
Umum

Nutrisi Untuk Ternak Sapi

 

Nutrisi Untuk Ternak Sapi

a. Protein

Protein berfungsi untuk:

  • Memperbaiki dan menggantikan sel tubuh yang rusak, misalnya pada sapi lanjut usia.
  • Pertumbuhan atau pembentukan sel-sel tubuh, misalnya pada pedet.
  • Keperluan berproduksi, misalnya bagi sapi-sapi dewasa.
  • Diubah menjadi energi, misalnya pada sapi-sapi kerja.

Protein lebih banyak dibutuhkan oleh sapi-sapi muda yang sedang dalam pertumbuhan daripada sapi-sapi dewasa. Karena protein tidak bisa dibentuk oleh tubuh, padahal sangat mutlak diperlukan tubuh, maka sapi-sapi yang bersangkutan harus diberi makanan yang cukup mengandung protein.

Sumber protein:

  • Hijauan dari jenis leguminosa: centrosema pubescens, daun turi, lamtoro dan lain-lain.
  • Makanan tambahan, berupa makanan penguat: bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, katul, tepung darah, tepung ikan, tepung daging dan lain-lain.

Protein yang berasal dari hewan lebih baik, sebab mengandung asam amino essensial dan gizi yang lebih tinggi. Bahan makanan yang memiliki kadar protein yang tinggi mutunya ialah yang paling mendekati susunan protein tubuh. Protein yang berasal dari hewan dapat diproses menjadi protein jaringan tubuh kembali dengan risiko kerugian yang sangat kecil bila dibandingkan dengan pengolahan protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti jagung, apalagi jerami dan sebagainya.

Bagi ternak ruminansia, termasuk sapi, tidak membutuhkan protein yang bermutu tinggi di dalam makanannya, sebab di dalam rumen dan usus yang panjang telah banyak terjadi pengolahan oleh jasad renik. Namun, yang perlu diperhatikan ialah bahwa untuk membangun kembali protein yang telah usang dan terurai, maka protein dengan asam-asam aminonya harus di tingkatkan pula. Oleh karena itu jika sapi terpaksa hanya diberi makanan dari jerami, khususnya sapi penggemukan, maka untuk menutup kekurangan unsur-unsur yang tidak terdapat di dalam jerami tersebut harus diberi pakan tambahan yang banyak mengandung protein, lemak dan karbohidrat. Sebab jerami terlalu banyak mengandung serat kasar yang sulit dicerna, sedangkan unsur-unsur protein, lemak dan karbohidrat yang terkandung di dalamnya sangat sedikit.

 

b. Lemak

Lemak berfungsi untuk:

Sumber energi (tenaga).

Pembawa vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak seperti vitamin A, D, E, dan K.

Lemak dari bahan makanan dapat diubah menjadi pati dan gula, yang bisa digunakan sebagai sumber tenaga, atau disimpan di dalam jaringan sel-sel sebagai lemak cadangan. Banyaknya lemak dalam tubuh berbeda-beda. Biasanya lemak-lemak tersebut dibentuk dari karbohidrat dan lemak makanan yang tidak langsung digunakan. Dan setiap kelebihan lemak disimpan di bawah kulit sebagai cadangan. Setiap jenis ternak memiliki alat atau tempat khusus untuk menyimpan lemak, misalnya sapi pada ponoknya, domba pada ekornya dan lain sebagainya. Di samping itu kelebihan lemak disimpan di sekitar buah pinggang, selaput penggantung usus dan di antara otot-otot.

Tubuh hewan terdiri dan tiga jaringan, yakni tulang, otot dan lemak. Di antara ketiga jaringan tersebut lemaklah yang terbentuk paling akhir. Pada ternak sapi potong yang digemukkan seperti sapi kereman misalnya, lemak itu menyelubungi serabut otot-otot sehingga otot atau daging menjadi lebih lembut. Lemak pada tubuh binatang mempunyai sifat yang berbeda-beda. Hal ini sangat tergantung dari jenis, umur, mutu makanan, aktivitas dan kesehatan hewan tersebut. Oleh karena itu sapi yang dipotong pada usia lanjut dagingnya akan liat, apalagi bila sapi tersebut intensitas kerjanya terlalu tinggi dan makanan tidak memenuhi syarat. Hewan ternak yang hanya memperoleh hijauan dari rumput melulu akan sangat rendah mencerna lemak, sebab rumput hanya mengandung 1% lemak kasar. Ransum ternak yang banyak mengandung sumber lemak adalah: bungkil kacang tanah, bungkil kelapa dan bungkil kacang kedelai.

 

c. Karbohidrat

Karbohidrat berfungsi untuk:

Sumber tenaga (energi).

Pembentukan lemak di dalam tubuh.

Setelah dicerna, karbohidrat tersebut diserap oleh darah berupa glugosa dan langsung dioksidasikan untuk menghasilkan energi atau untuk cadangan lemak tubuh. Yang termasuk karbohidrat ialah serat kasar, BETN (yakni bahan-bahan yang banyak mengandung pati dan gula). Jagung dan makanan butiran lainnya juga banyak mengandung karbohidrat. Namun, kebutuhan karbohidrat ini juga bisa dipenuhi oleh bahan hijauan, sehingga dalam hal kebutuhan karbohidrat ini ternak tidak banyak mengalami kesulitan.

 

d. Mineral

Mineral berfungsi untuk:

  • Pembentukan jaringan tulang dan urat.
  • Keperluan berproduksi.
  • Menggantikan mineral dalam tubuh yang hilang, dan memelihara kesehatan.

Mineral tidak banyak terdapat dalam tulang. Walaupun demikian, mineral dalam jaringan tubuh yang jumlahnya hanya sedikit itu, amat penting artinya bagi daya hidup hewan. Sebab mineral akan mempermudah proses pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan. Pada anak hewan yang sedang tumbuh, ataupun bagi hewan dewasa yang perlu memperbaharui sel-selnya yang berlangsung terus-menerus, juga sangat membutuhkan mineral. Demikian pula pertumbuhan janin pun hanya mungkin bila tersedia unsur mineral.

Beberapa unsur mineral penting yang diperlukan tubuh ialah: natrium, khlor, kalsium, fosfor, sulfur, kalium magnesium, tembaga, seng, selenium. Pada umumnya unsur-unsur tersebut banyak terdapat dalam ransum makanan. Namun demikian seringkali juga ada unsur-unsur mineral tertentu yang perlu ditambahkan. Unsur-unsur tersebut, terutama adalah garam dapur (NaCl), kalsium (Ca) dan fosfor (P).

Bangsa padi-padian banyak mengandung fosfor, sedangkan makanan kasar lainnya banyak mengandung Ca. Sebagai tanda bahwa hewan ternak sapi kekurangan mineral ialah: sapi suka makan tanah. Akibat kekurangan mineral, bisa menimbulkan penyakit tulang, atau fertilitasnya (kesuburan) menurun. Sumber mineral terutama dapat dipenuhi dari hijauan, feed supplement-mineral.

 

e. Vitamin

Vitamin berfungsi untuk:

  • Mempertahankan kekuatan tubuh.
  • Memajukan kesehatan dalam berproduksi.

Dalam hal pemenuhan vitamin pada ternak tidak perlu menjadi perhatian khusus, karena unsur tersebut biasanya cukup tersedia dalam bahan-bahan pakan ternak. Dan kebanyakan vitamin dibentuk dalam usus hewan pemamah biak, terutama vitamin B kompleks. Tetapi pada musim kemarau panjang, ada kemungkinan bahan-bahan pakan itu kekurangan kadar vitamin A. Oleh karena itu ternak sapi yang dipiara secara intensif, atau dibatasi ruang geraknya, maka di dalam ransum perlu ditambahkan vitamin A. Kelebihan vitamin A bisa tersimpan lama di dalam hati.

Pada sapi vitamin tersebut bisa bertahan sampai 6 bulan, kambing 3 bulan. Pada umumnya bagian hijauan tanaman yang sedang tumbuh, atau pada bagian pucuknya banyak mengandung karotin, yang dalam tubuh hewan diubah menjadi vitamin A.

Proses pembentukan vitamin:

  • Vitamin A dibentuk dari karotin.
  • Vitamin B dapat dibentuk sepenuhnya di dalam tubuh hewan.
  • Vitamin C dibentuk sendiri oleh semua jenis hewan yang telah dewasa
  • Vitamin D terjadi dalam tubuh dengan bantuan sinar matahari.

Sumber vitamin: Terutama hijauan. Tetapi perlu juga diperhatikan bahwa kandungan vitamin dalam hijauan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: tanah, iklim, waktu pemotongan dan penyimpanan. Vitamin A dan E banyak terdapat pada tanaman hijauan dan padi-padian.

 

f. Air

Air berfungsi untuk:

  • Mengatur suhu tubuh.
  • Membantu proses pencernaan.
  • Mengeluarkan bahan-bahan yang tidak berguna lagi di dalam tubuh yang berupa: keringat, air seni dan kotoran (80% air).
  • Melumasi persendian dan membantu mata untuk dapat melihat.

Air merupakan bagian utama dari zat-zat di dalam tubuh. Komposisi tubuh hewan lebih dari 50% terdiri dari air, dan sebagian besar jaringan tubuhnya mengandung 70 — 90% air. Hewan yang kekurangan air biasanya lebih cepat mati daripada kekurangan makanan. lni suatu bukti bahwa air mempunyai fungsi yang sangat penting bagi ternak. Oleh karena itu para peternak harus sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan air bagi ternaknya.

Jumlah kebutuhan air minum bagi ternak sapi sangat bervariasi, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti: jenis sapi, umur, suhu lingkungan, jenis bahan makanan dan volume makan yang masuk dalam tubuh, serta kegiatan sapi yang bersangkutan. Bagi sapi-sapi muda, sapi yang sedang bekerja, sapi yang berada dalam lingkungan suhu yang tinggi, sapi yang makan jenis makanan jerami dan dalam jumlah volume yang tinggi, tuntutan air minum yang dipergunakan lebih tinggi daripada yang lain.

Kebutuhan air dalam tubuh sapi bisa dipenuhi dari air minum, air dalam bahan makanan dan air metabolik yang berasal dari glugosa, lemak dan protein. Sebagai pedoman, penyediaan air minum bagi sapi dewasa yang bekerja kira-kira 35 liter, dan sapi yang tidak bekerja cukup sekitar 25 liter.

Categories
Perikanan

Penyakit Ikan Lele

Penyakit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup dan berkembang di dalam tubuh lele sehingga organ tubuh lele terganggu. Jika salah satu atau sebagian organ tubuh terganggu, akan terganggu pula seluruh jaringan tubuh ikan lele. Kemudian penyakit akan timbul jika terjadi ketidak-seimbangan antara kondisi lele, lingkungan, dan patogen. Lele yang kondisi tubuhnya buruk, sangat besar kemungkinan terserang penyakit. Sebaliknya, jika kondisi tubuhnya baik, lele sangat kecil kemungkinan terserang penyakit. Kondisi tubuh yang buruk dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti terjadinya perubahan lingkungan secara mendadak yang membuat lele mengalami stres atau terjadi luka dan perdarahan pada tubuhnya.

Luka dan perdarahan dapat terjadi akibat penanganan yang kurang baik, terutama saat panen, dan sistem pengangkutan yang kurang tepat. Demikian pula dengan kondisi lingkungan. Jika lingkungan kurang baik, seperti kandungan oksigen di dalam kolam rendah, ada gas beracun, atau terjadi pencemaran (baik oleh limbah industri maupun rumah tangga), kondisi tubuh lele bisa menjadi lemah.

Jika dilihat dari sifat penyerangan, penyakit ikan lele dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, penyakit yang menyerang bagian dalam tubuh, seperti jantung, hati, atau usus, dikenal dengan istilah endotern. Kedua, penyakit yang menyerang bagian luar tubuh lele seperti sirip, dikenal dengan eksotern.

Penyakit Ikan Lele

Beberapa tindakan pencegahan penyakit ikan lele yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

  • Sebelum pemeliharaan, kolam harus dikeringkan dan dikapur untuk memotong siklus hidup penyakit.
  • Kondisi lingkungan harus tetap terjaga, misalnya kualitas air tetap baik.
  • Pakan tambahan yang diberikan harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Jika berlebihan, dapat mengganggu lingkungan.
  • Penanganan saat panen harus baik dan benar untuk menghindari agar lele tidak luka.
  • Harus dihindari masuknya binatang pembawa penyakit, seperti burung, siput, atau keong mas.

Ada beberapa jenis penyakit yang biasa menyerang lele. Cara penyerangan, gejala yang timbul, dan teknik penanggulangan setiap penyakit tidak sama. Pengobatan penyakit lele akan efektif dilakukan jika dapat diketahui jenis penyakit, gejala penyerangannya, serta jenis dan dosis obat-obatan yang harus digunakan.

 

Penyakit Pada Ikan Lele Yang Disebabkan Oleh Bakteri :

1. Pseudomonas sp.

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya perdarahan pada kulit, hati, ginjal, dan limpa. Perdarahan pada kulit akhirnya mengakibatkan borok-borok pada tubuh ikan lele.

Tindakan penanggulangan penyakit ini dilakukan dengan menjaga kualitas air. Jika terserang, ikan lele direndam dalam larutan Oxytertracyclin dosis 25-30 mg/kg ikan lele per hari. Diberikan secara berturut-turut selama 7-10 hari. Pemberian dilakukan pada bak terpisah

 

2. Aeromonas hydrophiladan

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya perubahan warna tubuh ikan menjadi gelap, kulit kasat, dan terjadi perdarahan. Ikan lele sulit bernapas, berenang sangat lemah, dan terjadi perdarahan pada hati, ginjal, dan limpa.

Tindakan penanggulangan penyakit ini dilakukan dengan menjaga kualitas air. Penyuntikan dengan Terramycine 25-30 mg/kg lele, diulang 3 hari sekali sebanyak 3 kali ulangan. Mencampur makanan dengan Terramycine 50 mg/kg lele per hari selama 7-10 hari. Selain itu dapat menggunakan Sulphanamide sebanyak 100 mg/kg lele per hari selama 3-4 hari.

 

3. Aeromonas punctata

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya ikan lele yang kehilangan nafsu makan. Infeksi pada kulit kepala, kulit badan bagian belakang, insang, sirip, dan bagian badan lainnya.

Upaya pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air. Perendaman memakai copper sulfat dosis 1200 ppm selama 1-20 menit. Perendaman dengan Oxytetracyclin HCL dengan dosis 10 mg/1 kg ikan lele selama 30 menit.

 

4. Peduncle (cold water diseases)

Gejala serangan penyakit ini hampir sama dengan Columnaris, bedanya Peduncle menyerang pada temperatur dingin, sekitar 16° C, sedangkan Columnaris pada temperatur panas, sekitar 20° C, infeksi berjalan lambat dalam hal timbulnya borok atau nekrosa pada kulit.

Upaya pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan perendaman dengan Oxytetracyclin 10 ppm selama 30 menit. Mencampur makanan dengan Sulfisoxzole sebanyak 100 mg/kg berat ikan lele per hari selama 10-20 hari berturut-turut.

 

5. Columnaris

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya perdarahan pada kulit ikan lele. Borok-borok pada kulit. Perdarahan pada hati, ginjal, dan limpa. Ciri-ciri yang timbul akibat infeksi Pseudomonas dibedakan dari serangan bakteri Aeromonas dengan adanya luka-luka kecil pada kulit kemudian meluas ke arah daging. Luka-luka kecil pada hati. Nekrosa pada jaringan daging dan jaringan pembuat darah.

Upaya pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air. Perendaman memakai Oxytetracyclin HCL dosis 25-30 mg/kg ikan lele per hari diberikan 7-10 hari berturut-turut. Pemberian Sulfamerazine sebanyak 100-200 mg/kg berat ikan lele per hari, melalui makanan 1-3 hari. Penyuntikan Oxytetracyclin HCL sebanyak 25-30 mg/kg ikan lele per hari, melalui makanan selama 7-10 hari berturut-turut.

 

6. Edward siella

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya perubahan tubuh ikan lele berwarna gelap. Kadang-kadang mata menonjol. Ada sedikit bercak darah di pangkal sirip dada. Kadang-kadang ditemukan benjolan di bagian samping tubuh ikan lele.

Upaya pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air. Pengobatan dapat dilakukan pada masa periode awal penyerangan menggunakan Sulphanamide dengan dosis 100-200 mg/kg/hari diberikan sampai hari yang keempat secara berturut-turut. Lele yang terserang penyakit harus segera dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur.

 

7. Penyakit Ginjal

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya luka di ginjal, hati, dan bintik-bintik berwarna keputih-putihan. Hingga saat ini belum ditemukan obat yang tepat untuk memberantas penyakit ini.

 

8. Penyakit Tuberculosis

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya perubahan tubuh ikan lele berwarna gelap. Perut membengkak dan terdapat bintik-bintik pada hati. Cara pencegahan dengan perbaikan kualitas air.

 

Penyakit Pada Ikan Lele Yang Disebabkan Oleh Parasiter :

1. Saprolegiasis

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya sekumpulan benang halus seperti kapas berwarna putih kecokelatan pada ubuh ikan lele. Tempat penyerangan biasanva di daerah kepala, tutup insang, sirip, dan bagian badan lainnya.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan menjaga kebersihan kolam dan kualitas air. Menghindari setiap perlakuan yang menimbulkan luka. Perendaman dalam Malachite Green Oxalate (MGO) sebanyak 3 g/m³ air selama 30 menit.

 

2. Penyakit Bintik putih

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan ikan lele berenang sangat lemah dan selalu di permukaan air. Terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip, dan insang. Lele sering menggosokkan tubuhnya ke dasar kolam atau pada benda-benda yang keras.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu lele diberok dalam air yang mengalir. Padat penebaran dikurangi, dilakukan perendaman dengan larutan formalin 25 ml/m³ air ditambah larutan Oxalate 0,1 g/m³ air selam 12-24 jam.

 

3. Tichodiina sp.

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan gerakan lele lemah dan lele kurus. Menggosok-gosokkan tubuhnya pada benda-benda keras.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu padat penebaran dikurangi. Merendam lele dalam larutan formalin 150-200 ppm (150-200 ml/m³) selama 15 menit. Merendam Malachite Green Oxalate 0,1 g/m³ selama 24 jam.

 

4. Cacing kecil pada kulit, sirip, dan insang

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan kepala ikan lele yang kelihatan besar tetapi kurus. Kulit lele suram. Sirip ekor kelihatan rontok. Lele menggosok-gosokkan badan ke dasar kolam penampungan atau benda keras lainnya. Tutup insang tidak normal.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan mengurangi kepadatan penebaran. Merendam lele dalam formalin 250 ml/m³ air selama 15 menit. Merendam dengan Methylene Blue sebanyak 3 gr/m³ air selama 24 jam.

 

5. Myxosporensis (Myxobolus sp.)

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya bintil-bintil berwarna putih kemerah-merahan pada insang.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan pengeringan kolam dan pengapuran dengan dosis 200 g/m³, dibiarkan selama 1-2 minggu. Air yang masuk disaring melalui filter pasir, kerikil, dan ijuk.

 

6. Myxosoma sp.

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya pembengkakan (bisul) di sekitar punggung. Jika bisul pecah, akan keluar cairan keruh berwarna kuning.

Pencegahan dengan cara menyaring air yang masuk. Perendaman dengan larutan formalin 25 cc/m³ selama 5 menit. Kolam disemprot dengan Dipterex/Sumithion 50 EC dengan takaran 1 cc/m³.

 

7. Lernaea sp.

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya parasit yang menempel di tutup insang, sirip, atau mata selama 15 menit. Kemudian terlihat luka-luka di tempat penyerangan tersebut.

Pencegahan dengan cara menyaring air masuk. Lele yang terinfeksi direndam dalam larutan garam/NaC1 20 g/liter (2%) selama 5 menit.

 

8. Kutu ikan (Argulus).

Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya ikan lele yang menjadi kurus. Parasit menempel di kulit, sirip, dan insang. Bekas penyerangan kelihatan kemerah-merahan.

Categories
Perikanan

Hama Ikan Lele

Hama Ikan Lele

Salah satu kendala yang sering dihadapi petani dalam budidaya ikan lele adalah serangan hama dan penyakit. Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan hama biasanya tidak sebesar serangan penyakit. Meskipun demikian, keduanya harus mendapat perhatian sehingga budidaya ikan lele dapat berhasil seperti yang diharapkan.

Pencegahan merupakan tindakan yang paling efektif dibandingkan dengan pengobatan. Sebab, pencegahan dilakukan sebelum terjadi serangan, baik hama maupun penyakit, sehingga biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Para petani yang baru bergerak di bidang budidaya ikan lele, tentu akan mengalami kesulitan dalam menanggulangi serangan hama dan penyakit. Karena itu perlu mengetahui tindakan pencegahan serangan hama dan penyakit tersebut. Berbeda halnya para petani yang telah lama menggeluti budidaya ikan lele, mereka tentu tidak akan mengalami kesulitan.

Hama Ikan Lele

Hama adalah organisme pengganggu yang dapat memangsa, membunuh, dan mempengaruhi produktivitas lele, baik secara langsung maupun secara bertahap. Hama yang menyerang ikan lele biasanya datang dari luar melalui aliran air, udara, atau darat. Hama yang berasal dari dalam biasanya akibat persiapan kolam yang kurang sempurna.

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan hama terhadap ikan lele.

Pengeringan dan pengapuran kolam sebelum digunakan. Dalam pengapuran sebaiknya dosis pemakaiannya diperhatikan atau dipatuhi.
Pada pintu pemasukan dipasang saringan agar hama tidak masuk ke dalam kolam.

Hama yang sering menyerang ikan lele, terutama yang masih berukuran kecil, adalah ular, belut, dan ikan gabus. Tindakan penanggulangan serangan ketiga hama tersebut sebagai berikut.

1. Penanggulangan Hama Ular Yang Menyerang Ikan Lele

  • Ular tidak menyukai tempat-tempat yang bersih. Karena itu, cara, menghindari serangan hama tersebut adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan kolam.
  • Karena ular tidak dapat bersarang di pematang tembok, sebaiknya dibuat pematang dari beton atau tembok untuk menghindari serangannya.
  • Perlu dilakukan pengontrolan pada malam hari. Jika ada ular, bisa langsung dibunuh dengan pemukul atau dijerat dengan tali.

 

2. Penanggulangan Hama Belut Yang Menyerang Ikan Lele

  • Sebelum diolah, sebaiknya kolam digenangi air setinggi 20-30 cm, kemudian diberi obat pembasmi hama berupa Akodan dengan dosis rendah, yakni 0,3-0,5 cc/m³ air.
  • Setelah diberi pembasmi hama, kolam dibiarkan selama 2 hari hingga belut mati. Selanjutnya air dibuang ke tempat yang aman.

 

3. Penanggulangan Ikan Gabus Yang Menyerang Ikan Lele

  • Memasang saringan di pintu pemasukan air kolam, sehingga hama ikan gabus tidak dapat masuk.
  • Mempertinggi pematang kolam agar ikan gabus dari saluran atau kolam lain tidak dapat meloncat ke kolam yang berisi ikan lele.